Selasa, 29 Januari 2019
Tips menggambar mudah untuk anak
ASSALAMUALAIKUM WR WB
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman untuk anda yang memiliki anak
yang bingung bagai mana cara nya mengambar mudah untuk anak-anak diusia dini. Nah kali ini, saya memposting video bagai mana caranya melukis bebek dengan cara yang sangat sederhana.
Oke!!! langsung aja tonton videonya di bawah ini......
sekian terima kasih semoga videonya ada manfaatnya untuk anak anda semua.
Selasa, 22 Januari 2019
MELIPAT BAJU DENAGAN CEPAT
hallo...teman-teman, bagi anda yang bingung mau menyimpan pakaian tapi ngak tau cara melipat nya... sedit video cara bagaimana melipat pakain denagan cepat dan rapi. yuk simak video berikut ini!
SAYANG DIBUANG
assalamualaikum wr.wb....
pada kesempatan kali ini...!!! Saya, ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang kegunaan botol plastik bekas. Botol plastik bekas bisa kita dapat kan dibanyak tempat, dan botol bekas plastik ini bisa menghasilkan suatu karya yang bisa menghasilkan uang lho....
- BUNGA
- TEMPAT PENSIL
- TANAMAN DINDING VERTIKAL
- DAN BANYAK LAGI KEGUNAANNYA
Selasa, 15 Januari 2019
SEJARAH PULAU PENYENGAT
Sejarah Pulau Penyengat
tercatat dalam sejarah adalah bahwa mesjid ini
merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang utuh. Harap
diingat, Penyengat pada akhirnya tidak saja sebagai tempat berkedudukannya
seorang Yang Dipertuan Muda atau semacam Perdana Menteri Kerajaan Melayu
Riau-Lingga, tetapi juga tempat kedudukan Sultan sejak tahun 1900 dengan segala
macam pembangunan fisiknya; sebutlah di antaranya berbagai macam istana,
mahkamah, rumah sakit, listrik, dan jaringan telepon yang tersedia sebelum abad
ke-20.
Alkisah, nama pulau Penyengat muncul dalam
sejarah Melayu pada awal abad ke-18 ketika meletusnya perang saudara di
Kerajaan Johor-Riau yang kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatera
(masih di Riau). Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau
(akhir abad ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997
diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini sebagai kubu
penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan, dari kawasan Pulau Tujuh di
Laut Cina Selatan.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah. Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.
Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji, dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau Penyengat semakin banyak.
Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan, pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844), menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah atau beramal di jalan Allah.
Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama. Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid selesai dikerjakan selama tiga pekan.
Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras, sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah, bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.
Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja Hamzah Yunus mengatakan, “Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun oleh Raja Abdul Rahman.”
Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.
Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab, India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada “kelompok” kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak 17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga rakaat), dan isya (empat rakaat).
Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun 1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.
Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba menerjemahkannya.
Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.
Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara, memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati) untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika berada di situ.
Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.
Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah. Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.
Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji, dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau Penyengat semakin banyak.
Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan, pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844), menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah atau beramal di jalan Allah.
Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama. Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid selesai dikerjakan selama tiga pekan.
Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras, sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah, bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.
Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja Hamzah Yunus mengatakan, “Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun oleh Raja Abdul Rahman.”
Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.
Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab, India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada “kelompok” kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak 17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga rakaat), dan isya (empat rakaat).
Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun 1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.
Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba menerjemahkannya.
Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.
Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara, memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati) untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika berada di situ.
Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.
penampilan suasana dalam Idul Fitri dan lintasan
sejarah yang dikandung Mesjid Sultan itu yang agaknya “mengusik” hati orang
luar datang mengerjakan shalat Idul Fitri atau Jumat (lihat: Naksabandiyah dan
Berbagai Kegiatan).
Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di atas Rp 100 juta.
Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya. Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.
Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan orang akan wujud Allah.
Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja, kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.
Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.
Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah. Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka selebar-lebarnya
Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di atas Rp 100 juta.
Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya. Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.
Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan orang akan wujud Allah.
Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja, kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.
Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.
Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah. Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka selebar-lebarnya
BUDIDAYA POHON SAGU
Hallo guys...!!! kali ini saya ingin berbagi pengalaman bagai mana cara nya membudidayakan tanaman pohon sagu, kebetulan didaerah saye tanaman sagu ini banyak betambun hiak....
CARA BUDIDAYA TANAMAN SAGU
Cara Budidaya Tanaman Sagu – Tanaman yang termasuk ke
dalam famili atau suku Aracaceae merupakan tanaman yang berasal dari Papua dan
Maluku. Di tempat asalnya sagu dijadikan sebagai makanan pokok bagi
penduduknya.
Tanaman sagu memiliki nama yang berbeda di masing-masing
daerah, misalnya di Jawa Barat dikenal dengan nama kirai, di Ambon dikenal
dengan nama lapia atau napia, di Gorontalo dikenal dengan nama tumba, di Toraja
dikenal dengan nama Pogalo atau tabaro, dan di Kepualauan Aru dikenal dengan
nama rambiam atau rabi. Untuk cara budidaya tanaman sagu dapat dilihat sebagai berikut.
a.
Persiapan
Penanaman Tanaman Sagu
Tanaman sagu dapat tumbuh dengan optimal pada curah hujan
berkisar antara 2000 hingga 4000 mm pertahun dan tersebar secara merata
sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 700 meter di atas
permukaan laut (mdpl).
Akan tetapi pada ketinggian 400 mdpl ditemukan produksi sagu
terbaik. Suhu yang diperlukan pada budidaya tanaman sagu yaitu berkisar antara
24,50 hingga 29 derajat Celsius.
Dalam proses pertumbuhannya, tanaman sagu membutuhkan
penyiraman yang cukup, akan tetapi penggenangan pada areal tanaman sagu membuat
pertumbuhannya menjadi terganggu.
Tanaman sagu dapat hidup di daerah rawa dengan air tawar
atau daerah rawa dengan gambut dan pada daerah yang berada di sepanjang aliran
sungai.
B.Pemilihan Benih Tanaman Sagu
Pembibitan dapat dilakukan dengan cara generatif dan
vegetatif. Pada cara generatif, benih yang digunakan harus sudah tua, tidak
terdapat cacat, memiliki besar rata-rata dan memiliki tunas.
Sedangkan benih yang digunakan untuk pembibitan tanaman sagu
secara vegetatif yaitu benih yang berasal dari tunas yang berumur kurang dari 1
tahun, dan memiliki berat 2 hingga 3 kg dengan diameter berkisar antara 10
hingga 13 cm.
C.Persiapan Lahan
Budidaya tanaman sagu sebaiknya dilakukan pada awal musim
penghujan. Sebelum lahan ditanami benih sagu, lahan harus dibersihkan terlebih
dahulu.
D.Penyiangan (pengendalian gulma)
Ketika tanaman sagu berumur 3 hingga 4 tahun dilakukan
penyiangan atau pembersihan gulma, karena apabila tidak dilakukan penyiangan
maka hama dan penyakit akan mudah menyerang tanaman sagu tersebut.
Selain itu dengan adanya gulma membuat kebun berpotensi
lebih besar dilanda kebakaran. Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan
sabit, cangkul, tangan dan lain sebagainya.
Hasil penyiangan tersebut dapat dipendam maupun dibuat pupuk
kompos. Akan tetapi apabila terdapat hama pada gulma, maka sebaiknya gulma
tersebut dibakar dan abunya dapat dijadikan sebagai pupuk.
E.Pemberian Pupuk
Tanaman sagu membutuhkan unsur hara diantaranya kalium,
kalsium dan magnesium.
Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara membenamkan
pupuk ke dalam tanah, hal ini bertujuan agar pupuk tidak terbawa air sebelum
diserap oleh akar dari tanaman sagu yang ditanam di daerah rawa atau dataran
rendah.
Pemupukan dilakukan secara melingkar pada sekeliling rumpun.
Pupuk yang diberikan pada tanaman sagu yang masih muda dilakukan hingga 1 tahun
menjelang masa panen dengan dilakukan 1 hingga 2 kali selama setahun pada awal
musim hujan.
F.Pemanenan
Untuk memudahkan pada saat panen, maka pohon sagu dipotong
hingga mendekati bagian akar.
Selasa, 08 Januari 2019
TIPS MENGHEMAT BATRY HP ANDROID
Cara Menghemat Baterai HP Android Semua Merek
Baterai smartphone udah besar, tapi kenapa baterai smartphone cepat habis ya? Mungkin kamu juga mengalami hal itu. Makanya agar baterai Android kamu lebih hemat, coba lakukan cara berikut:
1. Perhatikan Aplikasi yang Berjalan
Banyaknya aplikasi yang digunakan menjadi penyebab baterai smartphone menjadi boros. Untuk itu, untuk hemat baterai Android ada baiknya kamu selalu perhatikan aplikasi berjalan yang ditempatkan pada background.
Jika sewaktu-waktu kamu merasa baterai Android kamu cepat sekali habis, coba cek penggunaan baterai kamu dengan masuk menu Settings > Battery > Battery Usage.
Lihat aplikasi apa yang mengkonsumsi baterai paling banyak, dan silakan uninstall atau batasi penggunaannya secara bijak.
2. Hati-hati Install Aplikasi
Selalu perhatikan dan hati-hati akan aplikasi yang kamu install. Selalu baca baik-baik akses apa saja yang dibutuhkan oleh suatu aplikasi di smartphone kamu.
Beberapa aplikasi akan membuat baterai smartphone cepat habis karena terus-terusan melakukan ping lokasi Android kamu.
Jadi, ada baiknya kurangi meng-install aplikasi yang membutuhkan akses lokasi kamu.
3. Disable Aplikasi Bawaan
Salah satu yang tidak disukai dari vendor smartphone Android adalah fakta bahwa vendor sering menyematkan banyak bloatware pada smartphone besutannya. Kecuali yang pake stock Google, seperti Xiaomi Mi A1 atau Google Pixel.
Untuk lebih hemat baterai Android kamu, coba deh kamu disable bloatware dengan cara masuk Settings > Apps > Pilih Aplikasi > Disable.
Jika kebetulan smartphone kamu sudah menggunakan sistem operasi Android Lollipop, kamu bisa menghemat baterai Android dengan masuk ke fitur Power Saving Mode.
Pada mode ini semua fungsi smartphone yang mengkonsumsi baterai kamu akan dibatasi, dari mulai kecerahan layar, koneksi mobile, WiFi, hingga lokasi.
Cara masuk Power Saving Mode adalah dengan masuk Settings > Battery > Battery Saver pada pengaturan smartphone kamu.
5. Matikan Fitur Smart Stay
Di kebanyakan smartphone Samsung ada fitur Smart Stay. Fitur ini akan membuat smartphone kamu tetap menyala selama kamu menatap layarnya.
Tapi tahukah kamu bahwa fitur ini berimbas besar kepada baterai Samsung Galaxy kamu?
6. Go Grayscale!
Masih berhubungan dengan kamu yang hobi membaca, kamu bisa menghemat baterai smartphone Android dengan cara masuk ke tampilan Grayscale atau Dark Mode.
Fitur ini akan membuat tampilan layar Android kamu jadi tampak abu-abu dan gelap, sehingga mengurangi konsumsi baterai.
7. Gelap Tak Selalu Jahat
Selama ini bukan tidak mungkin jika kamu berpikir bahwa hal-hal yang gelap itu identik dengan kejahatan.
Namun ini tidak berlaku bagi smartphone, apalagi jika smartphone Android kamu pake layar AMOLED.
Layar AMOLED sangat lemah terhadap warna cerah seperti putih. Maka dari itu untuk bisa membuat baterai Android dengan layar AMOLED lebih awet, cobalah untuk menggunakan wallpaper bernuansa gelap.
8. Jangan Gunakan Live Wallpaper
Masih tentang wallpaper, cara menghemat baterai Android selanjutnya adalah dengan menghindari penggunaan Live Wallpaper.
Meski memang akan membuat tampilan smartphone kamu lebih hidup dan menarik, tapi akan berimbas besar pada daya tahan baterai kamu
9. Ganti Launcher
10. Matikan Fitur Motions and Gestures
Fitur Motions and Gestures memudahkan kamu memberikan perintah pada smartphone hanya dengan menggerakan smartphone atau gesture khusus pada layarnya, seperti mengambil screenshot, atau mengabaikan panggilan telepon.
Tapi sebaiknya matikan fitur Motions and Gestures ini untuk menghemat baterai smartphone Android milikmu.
Toh kamu masih bisa menggunakan perintah lain untuk menggantikan fitur ini, kan?
11. Hindari Wakelocks
Pernah dengar istilah Deep Sleep? Ini adalah mode saat smartphone kamu menghentikan semua aktivitas agar baterai kamu menjadi lebih hemat.
Pada Android Marshmallow, kamu akan mudah masuk ke mode Deep Sleep lewat fitur Doze.
Berlawanan dengan Deep Sleep, ada keadaan dimana smartphone kamu dipaksa aktif oleh suatu aplikasi, yang disebut Wakelocks.
Untuk menghemat baterai Android kamu, sebaiknya aplikasi yang menyebabkan Wakelocks ini kamu hindari atau dibuat masuk mode hibernasi dengan menggunakan aplikasi seperti Greenify.
12. Tweak WiFi
Beberapa smartphone Samsung Galaxy terbaru diatur agar aktif mencari jaringan WiFi. Jadi begitu ada jaringan WiFi yang tersedia, akan langsung terhubung. Hal ini tentu akan berakibat besar pada baterai Samsung Galaxy kamu.
Agar baterai smartphone Samsung Galaxy kamu lebih lebih hemat, sebaiknya kamu atur agar WiFi kamu melakukan scanning hanya saat diaktifkan saja.
Caranya dengan masuk Settings > WiFi > More > Always allow scanning > Scan only while WiFi is On.
13. Matikan Fitur Briefing
Selain kontennya yang kadang tidak sesuai dengan selera, fitur Briefing juga berakibat besar pada berkurangnya baterai kamu.
Karena setiap kali kamu membuka fitur ini saat secara tidak sengaja tergeser, maka secara otomatis Briefing ini akan melakukan sinkronisasi data.
14. Hindari Auto Brightness
Meski akan memudahkan kamu untuk melihat layar secara nyaman di berbagai lingkungan, namun fitur Auto Brightness juga berakibat fatal pada baterai smartphone.
Untuk bisa hemat baterai Android kamu, sebaiknya matikan fitur Auto Brightness dan atur kecerahan layar secara manual saja.
15. Gunakan Charger Original
Penggunaan charger original setiap kali mengisi ulang baterai Android kamu sangat berpengaruh besar pada umur baterainya.
Makanya jangan malas untuk selalu membawa charger original smartphone kamu saat jalan.
SEMOGA ARTIKEL DIATAS ADA MANFAATNYA BAGI SEMUA PENGGUNA HP ANDROID
sekian dari saya, saipuljunior....Akhir Kata
wasallamualaikum wr. wb
Internet pertamaku
Assalamualaikum.wr.wb
HALLO Guys.....!!! perkenalkan nama saya SAIPUL kali ini, Saya ingin berbagi pengalaman pertama kali saya bermain INTERNET saya mulai main internet sejak saya berada dibangku kelas 6 sekolah dasar dimana saya mulai memainkan game Online, Clash of clan dan mencari informasi lewat Gogle. Setelah saya tamat dari sekolah dasar saya melanjutkan pendidikkan ilmu komputer di WIDYA INFORMATIKA dimana saya belajar membuat akun Gmail dan membuat akun Bloger. Ini adalah bloger pertamaku...jadi, kalau ada salah dan silap saya mohon maaf.
sekian....
TERIMA KASIH
Langganan:
Postingan (Atom)



